Pura Gumang Desa Adat Bugbug - Kabupaten Karangasem
Pura Gumang terletak di bagian selatan Desa Bugbug Kecamatan Karangasem, tepatnya di bagian tenggara Pulau Bali, berjarak ±10 km dari Kota Amlapura dan 72 km dari pusat Kota Denpasar. Pura ini bisa dicapai dengan berjalan kaki menelusuri lereng bukit dikarenakan berada pada ketinggian 305m di atas permukaan laut melalui jalan masuk utama Gapura Sang Hyang Ambu.
Sejarah Pura Gumang Dalam Lontar Kutara Kanda
Dewa Purana Bangsul lembar 7.b - 8.b
Alih Aksara :
hana katmu dénta gunung agung tinĕngĕran giri radjja maring airsaniya ya ta gunung mas mapucak manik adasar ratna komala wintĕn akrikil mirah apasir 102 podi, ya tika agranira hyang mahāméru nguni, ingsun ginawa maréng bangsul, sun parah tiganĕn, kang sabagi dadi gunung batur maka dapur sandi hyang agni siring prĕtiwi tala, ikang sabagi isorniya sun dadiakna gunung rĕnjani, ikang pucak ira dadi hyang tolangkir ngaran gunung agung, ikang pukahniya manadi pagunungan mwah, gégér sasor nikang gunung agung ika lwirniya, saka pūrwa amilangi, kawruh akna pangaraniya, gunung tapsahi, kuloniya gunung pangĕlĕngan, kuloniya gunung mangu, kulonia gunung silanjana, kuloniya gunung bĕratan, kuloniya gunung watukaru, kuloniya mwah pagunungan nagaloka, kuloniya mwah ngaran gunung pulaki, mangidul wétan sangké rika hana gunung pucak sangkur, bukit rangda, traté bang, mangétanya mwah hana padangdawa, mwah ikang pasisi kidul hana gunung andakasa, mwang huluwatu, tĕrus mangétan maring ghnya désanira hana gunung byaha, mwang biyasmuntig, ikang maring pūrwa hana gunung lĕmpuyang, mangalor sangké rika hanâ gunung sĕraya, samangkana prasama dadyaning acala sumimpa maréng bangsul.”.
Alih Bahasa :
“Akan engkau temukan Gunung Agung sebagai tanda gunung yang besar, di sebelah timur laut itulah sebagai gunung mas yang berpuncak manik berdasar ratna komala winten, berbatu mirah berpasir padi, itulah puncaknya Hyang Mahameru dahulu, yang Ku bawa ke Bali, Ku bagi menjadi tiga, yang sebagian menjadi Gunung Batur sebagai dapur Sandi Hyang Agni di bumi yang ada dibawahnya, yang sebagian lagi di bagian bawahnya Ku jadikan Gunung Rinjani, sedang puncaknya menjadi Hyang Tolangkir, bernama Gunung Agung, sedangkan bongkahan - bongkahannya menjadi pegunungan dan gundukan di sekeliling bagian bawah Gunung Agung itu seperti, dari timur mulai menghitungnya, ketahuilah namanya ada Gunung Tapsahi, di sebelah baratnya terdapat Gunung Pangelengan, di baratnya unung Mangu, di baratnya Gunung Silanjana, di baratnya Gunung Beratan, di baratnya Gunung Watukaru, di baratnya lagi Pegunungan Nagaloka, di baratnya lagi bernama Gunung Pulaki, ke selatan dan ke timur dari sana terdapat Gunung Pucaksangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, ke sebelah timur lagi ada Gunung Padangdawa, sedang di bagian tepi (pantai) selatan ada Gunung Andakasa dan Huluwatu, terus ke timur di sebelah tenggara tempatnya ada Gunung Byaha, dan Biyasmuntig, dan yang di sebelah timur ada Gunung Lempuyang, ke utara dari sana ada Gunung Seraya, demikianlah semuanya tentang gunung - gunung yang mengelilingi Pulau Bali”. (Sudarsana,1997)
Sejarah Pura Gumang
Dalam Lontar Babad Dukuh Jumpungan Lembar 1.b - 2.a
Alih Aksara :
“//.... i rĕnggan luas mangalih pakarangan ka biyasmuntig, apanga dadi tĕngĕt, mangaji ada i gotra, i gotra manunas kasidn -/- tĕkén déwané di bukit byaha, manunas gumi nusané sing manguwasayang, wnang i macaling managih upĕti, déwané di bukit byaha i jurang wastanida, n istri i lulut wastanida”.
Alih Bahasa :
“//..... i rengan pergi mencari tempat tinggal ke Biyasmuntig, agar menjadi angker disana, lalu bersemedi lahirlah I Gotra, I Gotra memohon anugrah - /- kepada Dewa (Bhatara) di Bukit Byaha, memohon agar bumi Nusa (Nusa Penida) walau siapa saja yang memerintah, agar tetap I Macaling yang meminta upeti (korban), Dewa (Bhatara) yang ada di Bukit Byaha bernama Dewa (Bhatara) Gde Jurang, dan yang perempuan (istri) bernama Dewa (Bhatara) Ayu Lulut”. (Kartini, 1942)
Berdasarkan atas sumber lisan dan sumber tertulis seperti lontar - lontar upa-purana, babad, usadha, maupun prasasti sebagai bukti autentik yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap keberadaan gambaran sejarah Pura Bukit Gumang Desa Bugbug, maka dapat dinyatakan bahwa Pura Bukit Gumang Desa Bugbug Kabupaten Karangasem merupakan peralihan dari Pura Gili Byaha, yang didasari atas pertemuan antara purusa dan pradhana (ardhanareswari). Bhatara Sang Hyang Sinuhun Kidul (Bhatara Gde Sakti) yang merupakan manifestasi purusa. dan Dewi Ayu Mas merupakan manifestasi pradhana. Beliau selanjutnya berstana tetap di Pura Bukit Gumang Desa Bugbug Kabupaten Karangasem, dengan sebutan bhiseka Bhatara Gde Gumang.
Pembagian Letak Pura Gumang
Pura Gumang tidak mengadopsi konsep Tri Mandala, yang biasanya terdiri dari Jaba Sisi (Kanista Mandala), Jaba Tengah (Madyama Mandala), dan Jeroan (Utama Mandala), seperti yang umumnya ditemukan di pura-pura lain di Bali. Bangunan - bangunan palinggih utamanya terdapat dalam satu halaman pada puncak Bukit Gumang.
Piodalan Pura Gumang
Pura Gumang memiliki pangempon yang dikenal dengan istilah manca desa, diantaranya: Desa Pakraman Bugbug, Desa Pakraman Bebandem, Desa Pakraman Datah, Desa Pakraman Jasri, dan Desa Pakraman Ngis. Pada setiap penyelenggaraan upacara Piodalan Ageng (Aci Ageng atau Usabha Ageng) yang disebut Aci Kadulu Gede atau Usabha Kadulu Gede, manca desa tersebut selalu terlibat dalam setiap penyelenggaraan upacara serta prosesi upacaranya yang telah diatur sesuai dengan ketentuan - ketentuan dresta yang sudah berjalan dan diyakini secara turun - temurun seperti yang dituangkan dalam lontar Pangaci - Aci Desa Adat Bugbug. Hari piodalan di Pura Gumang disebut aci atau usabha yang jatuh setiap pratipanten purnama sasih kapat, sajeroning penanggal ping. 13, 14, 15, nuju tri wara beteng (wahya), dalam perhitungan kalender di Bali. Menurut perhitungan kalender Masehi, jatuh sekitar bulan September - Oktober.
